Peristiwa di Pati menjadi gambaran nyata. Meski ada provokasi, pelemparan, hingga upaya mengejar aparat, polisi yang bertugas tetap menjaga kendali emosi. Mereka tidak terpancing untuk membalas dengan tindakan berlebihan, melainkan mengutamakan negosiasi dan disiplin formasi. “Inilah wujud nyata Presisi Kapolri yang bekerja. Polisi tidak lagi dipandang sebagai pihak yang hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga sebagai penjaga harmoni antara rakyat dan negara,” tegas Haidar Alwi.
Haidar Alwi menilai, sikap ini layak diapresiasi karena menunjukkan kematangan institusi Polri dalam menghadapi situasi sulit. Kemampuan aparat untuk tetap berdiri di tengah tekanan massa adalah hasil dari arahan yang konsisten dari Kapolri, serta komitmen untuk menjaga marwah institusi tanpa mengorbankan hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat.
Melihat dinamika yang terjadi, Haidar Alwi mengingatkan bahwa potensi gejolak serupa bisa muncul di daerah lain, terutama jika kebijakan kenaikan pajak tidak diimbangi dengan sosialisasi yang memadai. Pemerintah daerah perlu mengedepankan keterbukaan informasi, sedangkan aparat kepolisian harus menyiapkan strategi pengamanan yang tidak hanya mengandalkan jumlah personel, tetapi juga kecerdasan komunikasi publik.

