Namun, penjelasan yang diterima dalam kegiatan ini membuatnya melihat bahwa prosedur sebenarnya lebih sederhana dari yang dibayangkan. “Saya sering merasa ragu saat datang ke puskesmas atau rumah sakit, takut ada persyaratan yang belum lengkap. Dulu saya pikir mengurus administrasi itu ribet dan butuh banyak waktu. Tapi setelah dijelaskan tadi, ternyata semuanya bisa diurus dengan lebih mudah, bahkan lewat aplikasi. Penjelasannya jelas, tidak berbelit, jadi saya langsung paham dan lebih percaya diri kalau harus berobat,” ujar Didi.
Peserta lain, Tarmin, menyoroti manfaat informasi tentang fasilitas kesehatan (Faskes) yang ramah bagi penyandang disabilitas. Sebelumnya, ia sering kesulitan menemukan rumah sakit atau puskesmas yang memiliki akses memadai, seperti jalur kursi roda atau ruang pemeriksaan yang nyaman. Sosialisasi ini memberinya gambaran jelas mengenai lokasi dan jenis fasilitas yang siap melayani peserta disabilitas.
Baginya, informasi ini sangat membantu untuk merencanakan kunjungan berobat tanpa rasa khawatir. “Selama ini saya agak kesulitan mencari rumah sakit yang ramah kursi roda atau punya jalur khusus. Kadang sudah datang jauh-jauh, tapi aksesnya tidak memadai. Dari penjelasan tadi, saya jadi tahu rumah sakit mana saja yang siap melayani peserta disabilitas. Rasanya lebih tenang kalau suatu saat harus berobat, karena saya sudah tahu fasilitasnya memadai,” ujar Tarmin.
