Seharusnya, sambungnya, seluruh elemen bangsa bisa membayangkan bahwa Indonesia adalah tempat di mana perempuan dan laki-laki berbagi ruang, berbagi kuasa, dan berbagi tanggung jawab untuk kemajuan bersama.
“Perempuan juga berhak menduduki jabatan publik dan negara di semua tingkatan,” ungkapnya.
Di sisi lain, dia menyinggung soal pentingnya membangun pondasi kebudayaan. Ia mengingatkan bahwa kebudayaan bukan sekadar menjaga warisan masa lalu, melainkan juga sebagai upaya memperkuat jiwa kolektif yang menyatukan dan memberi arah moral bagi bangsa.
“Di tengah derasnya arus globalisasi nilai dan budaya asing, identitas bangsa kita tidak boleh luntur. Nilai-nilai luhur Pancasila, semangat gotong royong, serta Bhineka Tunggal Ika adalah modal sosial terbesar yang kita miliki,” katanya.
“Kita juga menghadapi tantangan terbesar yang berasal dari dalam diri kita sendiri, yang harus ditaklukkan demi membangun kekuatan nasional yang kokoh dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Puan lantas mengingatkan pesan Presiden pertama RI Sukarno. “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri,” katanya. (far)

