“Trash Hero Sanur sudah secara rutin melakukan aksi clean up setiap hari Sabtu sore. Kami menemukan bahwa sampah plastik ini memang sangat banyak, tapi sampah puntung rokok ini juga masih menduduki peringkat teratas karena wilayah Pantai Mertasari sering dipakai sebagai area camping dan banyak pengunjung membuang puntung rokok secara sembarangan,” beber Wayan.
Dia menegaskan bahwa aksi kolektif harus dilanjutkan dengan kebijakan yang tegas. “Aksi para relawan pada Sabtu (20/9) menunjukkan kekuatan kolaborasi, hanya dalam 45 menit, 200 relawan bisa mengumpulkan hampir 27 ribu lebih puntung. Bayangkan berapa banyak masih tercecer di pantai-pantai lain. Tanpa pengawasan, tanpa regulasi, dan tanpa penegakan aturan, masalah ini akan berulang. Edukasi masyarakat penting, tapi harus dibarengi tindakan nyata dari pemerintah,” tambah Wayan.
Sementara, Dwi Ardini dari Generasi Anti Rokok menekankan bahwa peran orang muda tidak berhenti di pantai, tetapi juga berlanjut ke ruang digital.
“Kebiasaan buang puntung rokok sembarangan adalah masalah perilaku. Untuk mengubahnya, kita harus masuk ke ruang sehari-hari digunakan orang muda, yaitu media sosial. Orang muda bisa menggunakan media digital untuk menyuarakan puntung rokok merusak lingkungan,” tegas Ardini.
