“Dan saya rasa walaupun kami juga tidak menyangka bahwa kami diberikan oleh MURI untuk rekor ini. Karena kami menjalankan ini semua dengan cinta, dengan kasih semua yang kami perjuangkan untuk catur Indonesia,” kata Eka Putra Wirya yang didampingi Kepala Sekolah SCUA Lisa Lumondong, Sekjen PB Percasi Hendri Hendratno dan jajaran pengurus.
Ia menyebut rasa cintanya bersama Utut Adianto dan Kristianus Liem terhadap catur adalah cinta mati.
Eka bertekad untuk terus berupaya sampai suatu saat nanti dapat melihat lahirnya seorang juara dunia catur dari Indonesia.
“Itu yang mungkin satu pemikiran saya, satu harapan saya ke depan. Dan saya yakin bahwa suatu saat nanti kita akan mendapatkan atlet catur yang berbakat sekali. Dan didukung oleh keluarga juga pembinaan yang tepat. Maka bukan yang mustahil kalau kita bisa mendapatkan juara dunia dari Indonesia,” tekadnya.
Disinggung soal pengorbanan moril dan materil yang telah diberikannya selama puluhan tahun membantu pembinaan catur di Indonesia.
Eka menegaskan semua itu dilakukannya atas dasar cinta sehingga terasa ringan dan menyenangkan. Apalagi pengorbanan tersebut berbuah manis dengan lahirnya pecatur-pecatur muda berbakat dan berprestasi yang meneruskan ‘jejak emas’ Utut Adianto.

