Dari sejumlah penampilan, tarian Minang menjadi magnet utama. Menurut Ayas, musik dan gerak Minang punya kekuatan magis yang bisa membangkitkan energi baik bagi penari maupun penonton.
“Musik Minang itu punya magis. Gerakannya membuat penari lebih ekspresif. Kami berharap suatu saat karya ini bisa dibawa ke panggung yang lebih besar, bahkan ajang lomba tari,” ujarnya.
Selain tim utama, acara ini juga menampilkan tim B berisi anak-anak usia belia dengan tarian “Zapin,” “Lampung,” dan tari “Indang” atau lebih dikenal dengan tari “Dindin Badindin.“ Kehadiran mereka menambah warna sekaligus semangat baru.

Acara ini bisa terwujud berkat banyak pihak. Salah satunya dukungan sponsor utama melalui program Semarak Budaya yang digagas Komisi X DPR RI. Tokoh masyarakat serta pemerintah lokal juga memberi apresiasi besar. Dukungan ini menjadi dorongan moral bagi Sanggar Laskar Sepuluh untuk terus berkarya.
