“Likuiditas tersebut tidak spesifik untuk perumahan saja,” katanya.
Bank, lanjut dia, memiliki kebebasan untuk menyalurkannya ke sektor lain sesuai dengan pertimbangan risiko dan kebutuhan,.
“Oleh karena itu, klaim bantuan Rp80 triliun untuk perumahan adalah plesetan teknis yang sangat menyesatkan,” kata dia.
Tidak hanya itu, Jerry juga mengkritik pernyataan analis politik lain yang menyebut politisi itu lebih pintar dari Menteri Keuangan Purbaya karena lebih dulu mengusulkan penurunan GWM.
“Kekeliruan paling fatalnya terletak pada pemahaman dasar otoritas kebijakan. GWM adalah instrumen moneter, sepenuhnya domain BI, bukan usulan politisi atau menteri,” tegas Jerry.
Ia menjelaskan bahwa BI menaikkan atau menurunkan GWM berdasarkan analisis stabilitas keuangan dan inflasi.
Sementara itu, penempatan dana pemerintah di bank Himbara merupakan instrumen fiskal yang sepenuhnya dikendalikan oleh Kementerian Keuangan.
“Menyamakan keduanya itu seperti menyamakan cabai rawit dengan bawang merah. Sama-sama di dapur, tapi fungsinya beda total,” ujar Jerry.
