“Festival ini bisa menjadi pilihan atau alternatif untuk ekosistem seni pertunjukan yang dilandasi oleh rasa guyub dan kebersamaan. Dan selama hampir berbelas tahun, lembaga budaya Titimangsa sendiri lebih banyak berpusat di kota besar. Dengan FTI, kami ingin membuka ruang untuk mengaitkan satu sama lain yang ada di seluruh penjuru Indonesia, inginnya begitu. Tapi, tentu akan dilakukan secara bertahap karena inginnya ini sesuatu yang bisa konsisten, tidak hanya sekali dua kali, tapi terus-menerus. Nah, karena itu membutuhkan bukan hanya stamina yang panjang, tapi juga kerja keras. Pada akhirnya saya yakin banyak sekali nanti tokoh-tokoh atau kelompok-kelompok yang akan ikut di dalam kendaraan Festival Teater Indonesia ini,” papar Happy Salma, Ketua Dewan Pengawas FTI.
“Di Indonesia hari ini sebetulnya sudah banyak festival teater yang basisnya daerah tertentu atau wilayah tertentu. Sebut saja Festival Drama Bahasa Sunda, Festival Teater Jakarta, dan Festival Teater Sumatera. Para penampil di festival-festival tersebut kebanyakan kelompok teater yang ada di kota masing-masing saja. Melihat fenomena itu, kami bercita-cita untuk membuat sebuah ajang pertemuan kelompok-kelompok teater lintas wilayah, lintas daerah. Gelaran pementasan lintas wilayah ini diharapkan juga jadi ajang pertukaran pengetahuan. Misalkan, kelompok teater yang berbasis di Sumatera bisa pentas di Palu atau di Mataram; yang ada di Kalimantan bisa jadi pentas di Jakarta, dan yang ada di Jakarta bisa jadi pentas di Medan,” ujar Pradetya Novitri, Direktur Festival FTI.
