“FTI 2025 mengundang seniman lintas wilayah dan lintas generasi untuk tidak hanya mencerminkan kehidupan, tetapi membedahnya. Realisme dan adaptasi prosa diposisikan sebagai alat riset artistik dan pembacaan ulang dunia. Tujuannya adalah untuk memperkuat kesadaran kritis penonton dan memperluas kosakata estetika teater Indonesia. Sedangkan visi jangka panjang FTI adalah menjadi katalis lahirnya karya teater Indonesia yang mempertajam eksplorasi realisme, memperkaya adaptasi sastra, dan menempatkan seni pertunjukan dalam percakapan global tentang masa kini,” jelas Sahlan Mujtaba, Direktur Artistik FTI, dosen dan sutradara teater yang juga menjabat Sekretaris Umum Penastri.
Dalam catatan kuratorial FTI, disebutkan “sirkulasi” merujuk pada bagaimana ide, wacana, dan karya seni bergerak atau digerakkan, yakni melintasi ruang, waktu, medium, dan komunitas, sehingga membentuk pengalaman bersama dan pengetahuan baru. Kata “ilusi” ditambahkan sebagai strategi konseptual yang menciptakan lapisan makna untuk menata persepsi kritis atas hubungan antara panggung dan realitas sosial kontemporer.
