Menurutnya, minyak memang dipakai dalam proses pencetakan food tray, namun bukan menjadi bahan campuran. Minyak hanya digunakan untuk melumasi cetakan logam agar tidak panas dan memudahkan proses stamping.
“Setelah proses pencetakan, nampan direndam, dibersihkan, dan distirilkan. Jadi minyak itu tidak tersisa di produk akhir,” jelas Dadan, dikutip pada Jumat (19/9/2025).
Meski begitu, Dadan mengakui isu tersebut membuat sebagian masyarakat ragu dan bahkan menolak program MBG. “Ada satu kecamatan di Sulawesi Utara yang menolak menerima makan bergizi karena viralnya isu food tray dianggap tidak halal,” ungkapnya.
PBNU menilai, isu ini perlu ditangani dengan edukasi yang jelas dan penjelasan transparan dari pemerintah agar masyarakat tidak termakan kabar simpang siur.
Fahrur berharap, program MBG yang dicanangkan pemerintah bisa tetap berjalan karena manfaatnya besar, terutama bagi santri dan masyarakat kecil.
“Kita berharap MBG bisa lebih higienis dan sebaik-baiknya. Program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya para santri di pesantren,” tutupnya.(Vinolla)
