IPOL.ID– Kasus keracunan massal yang dikaitkan dengan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terus menuai perhatian publik. Ribuan pelajar di berbagai daerah dilaporkan menjadi korban, sementara hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya kontaminasi serius pada makanan yang dibagikan.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO untuk Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, menilai persoalan ini tidak bisa dianggap enteng. Menurutnya, fenomena keracunan makanan adalah masalah kesehatan global yang juga kerap muncul di banyak negara.
“WHO menyebutkan setidaknya ada lima hal yang dapat dideteksi di laboratorium untuk menilai keracunan makanan. Sebaiknya lima hal ini juga diperiksa terkait kasus MBG,” kata Tjandra dalam keterangan tertulis, dikutip pada Senin (29/9/2025).
Pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkes) Jabar terhadap sejumlah sampel makanan MBG menemukan dua penyebab dominan keracunan. Pertama, mayoritas sampel positif terkontaminasi bakteri Salmonella, yang kerap muncul pada daging, unggas, dan telur.
