Dalam skala internasional, ancaman naiknya biaya pendidikan sebesar 62 persen. Sedangkan di Indonesia, para siswa dan mahasiswa harus menghadapi ancaman naiknya biaya pendidikan tinggi sebesar 282 persen, SMA sebesar 401 persen, SMP sebesar 438 persen, dan SD sebesar 467 persen.
“Lebih konsekuen, nasib pemuda mahasiswa harus digeser untuk mendahulukan kepentingan program prioritas yang sama sekali tak menjawab persoalan rakyat secara struktural, salah satu contoh adalah penyelenggaraan MBG (Mahal, Beracun, Gagal) menyerap 44,2 persen anggaran subsidi BOPTN (Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri),” kata Rizaldi pada awak media di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Selain itu, lanjut Rizaldi, pemuda juga harus menghadapi pahitnya kenyataan bahwa janji atas 19 juta lapangan pekerjaan adalah bualan dan omong besar semu dilayangkan pemerintahan saat ini.
Kenyataannya, gelombang pengangguran masih nyata bagi rakyat Indonesia. Tawaran kerja informal dengan upah minim adalah satu-satunya harapan terakhir bagi pemuda untuk mempertahankan hidup dan hari depannya.
