“Saya menjadikan lukisan sebagai media untuk berkomunikasi lewat karya seni. Lukisan dengan media berbentuk (bulat, persegi, potongan kayu) dengan satu sisi berujung runcing yang biasa disebut pin sebagai pengganti braille,” terang Kayla .
“Pin ini akan menjadi pengganti objek yang biasa terlukis di kanvas. Kata dan kalimat yang diciptakan dalam karyanya akan menjadi ungkapan layaknya lukisan pada umumnya. Untuk memudahkan penerapan pin agar susunannya rapi dan mudah dibaca, saya membuat alat sederhana sebagai pengganti riglet yang dapat disesuaikan dimensinya,” sambungnya.
Pada proses pewarnaan, Kayla memberikan aroma pada setiap warna yang akan digunakan. Warna tersebut diisi dalam wadah botol tutup krucut. Peserta didik hanya perlu menekan botol ke media lukisnya. Metode pewarnaan dijadikan sebagai ekpresi dalam karya, seperti pemilihan warna dan guratan berdasarkan filosofi yang dimaksud.
“Penikmat karya seni dengan keterbatasan penglihatan akan menikmatinya dengan rabaan, sedangkan yang lain akan menikmatinya secara visual,” tandasnya. (ahmad)
