“Porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional telah mencapai 16 persen, dan kami menargetkan peningkatan menjadi 36 hingga 40 persen pada 2040. Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 memproyeksikan tambahan kapasitas sebesar 69 gigawatt, di mana lebih dari 60 persennya akan bersumber dari energi terbarukan dan sistem penyimpanan energi,” terang Laode.
Sementara, dalam konteks regional, Laode menegaskan pentingnya kolaborasi ASEAN dalam memperkuat ketahanan energi kawasan. Melalui inisiatif seperti ASEAN Power Grid dan Trans-ASEAN Gas Pipeline, negara-negara anggota diharapkan dapat berbagi sumber daya, menekan biaya, dan meningkatkan ketahanan sistem energi secara kolektif.
“Masa depan ketahanan energi ASEAN akan sangat bergantung pada kemampuan kita untuk terkoneksi, berkolaborasi, dan berinovasi. Inisiatif lintas batas bukan hanya proyek infrastruktur, tetapi juga simbol kepercayaan dan solidaritas di antara negara-negara ASEAN,” tutup Laode.
Melalui kolaborasi erat antarpemerintah, industri, akademisi, dan lembaga internasional seperti International Energy Agency (IEA) dan International Renewable Energy Agency (IRENA), Indonesia menegaskan komitmennya untuk membangun sistem energi yang berkelanjutan, aman, dan inklusif bagi masa depan kawasan. (ahmad)
