Menurut Aji, paparan radioaktif Cs-137 dapat menimbulkan efek jangka pendek seperti mual, muntah, diare, kelelahan, sakit kepala, hingga penurunan sel darah putih. Pada paparan tinggi, risikonya bisa lebih berat: perdarahan, infeksi, kerusakan organ, hingga kematian.
Dalam jangka panjang, paparan kronis berpotensi meningkatkan risiko kanker, gangguan sistem imun, hingga kelainan janin pada ibu hamil. Meski demikian, Kemenkes menegaskan mayoritas kasus yang ditemukan masih dalam level yang bisa ditangani dengan dekontaminasi, obat, serta pemantauan kesehatan jangka panjang.
Pemerintah telah membentuk Satgas Penanganan Cs-137 yang bergerak cepat di radius 5 kilometer dari lokasi temuan. Langkah yang dilakukan meliputi edukasi masyarakat, pemantauan kesehatan, serta pemeriksaan gratis di puskesmas dan faskes terdekat.
“Radiasi tidak bisa dilihat, didengar, atau dicium. Karena itu, pemeriksaan kesehatan sangat penting,” tegas Aji.
Ia juga meminta masyarakat menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mulai dari rajin cuci tangan, mandi setelah beraktivitas, hingga menjaga pola makan dan istirahat. Keluhan kesehatan seperti mual, muntah, atau rasa lemas diminta segera dilaporkan ke tenaga medis.
