“Sejak itu, program ini terus bergulir. Kini Muhammadiyah telah memiliki 150 unit SPPG dan bahkan akan terus bertambah,” kata Haedar.
Ia menambahkan, Kepala BGN sempat terkesan dengan fasilitas SPPG di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). “Saya bilang, itu baru satu. Masih banyak lagi yang seperti itu. Itulah bentuk partisipasi nyata Muhammadiyah,” ujarnya.
Alasan Terlibat MBG
Haedar kemudian menjelaskan tiga alasan utama mengapa Muhammadiyah mendukung dan ikut terlibat dalam program MBG.
Pertama, karena program ini menyangkut masa depan generasi bangsa.
“Dalam pandangan Islam, kita ingin melahirkan qurrata a’yun — generasi yang menyejukkan mata, bukan dzurriyatan dhi’afa — generasi yang lemah,” tuturnya. Ia menegaskan bahwa persoalan gizi anak sangat berkaitan erat dengan ekosistem sosial dan ekonomi masyarakat.
“Sebagian besar masyarakat kita masih berada di tingkat ekonomi menengah ke bawah, sehingga kualitas gizinya rendah. Ini memengaruhi kondisi fisik dan psikologis anak-anak,” ujarnya.
