Haedar menyoroti rendahnya rata-rata IQ anak Indonesia, yang berada di angka 78,59, sebagai cerminan dari kondisi sosial tersebut. Karena itu, katanya, Muhammadiyah memilih untuk tidak terjebak dalam polemik politik atau teknis pelaksanaan program.
“Muhammadiyah tidak ingin masuk ke dalam kontroversi. Cara bisa seribu, tapi tujuannya satu: menyehatkan generasi bangsa. Kalau ada kekeliruan, kita koreksi dengan tindakan, bukan hanya dengan bicara,” tegasnya.
Kedua, Muhammadiyah melihat program MBG juga dapat menumbuhkan semangat wirausaha di masyarakat.
“Ekosistem ekonomi rakyat, khususnya UMKM, perlu digerakkan agar menjadi bagian dari program ini. Kalau hanya dikuasai kelompok besar, kita harus hadir dengan alternatif dakwah yang memberi solusi,” ujarnya.
Haedar mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terseret arus opini di media sosial. “Kadang hal kecil jadi heboh, tapi habis itu tidak ada tindak lanjutnya. Muhammadiyah tidak ikut dalam pola pikir seperti itu. Kita berbuat konkret,” tandasnya.
