Namun, di balik pujian atas ide cerdas dan efisien ini, muncul pula perdebatan. Sejumlah warganet menilai sistem tersebut berpotensi melanggar privasi karena menampilkan nominal buwuhan secara terbuka di depan tamu lain.
“Aku dan suami sudah memutus budaya gak jelas kayak gini. Nikah intimate, nggak menyediakan kotak sumbangan, nggak ada becekan. Kita niatnya nikah dan ngundang orang itu buat wujud rasa syukur. Lagian kalo dipikir-pikir lama-lama malah jadi beban sosial yang gak tau kapan berakhirnya. Makin kesini malah makin gak jelas,” tulis salah satu komentar yang banyak disetujui pengguna lain.
Terlepas dari pro dan kontra, fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi terus mengubah cara masyarakat menjalankan tradisi. Di Kota Batu, inovasi sederhana ini justru menjadi cermin bahwa budaya bisa tetap hidup tanpa harus menolak perubahan.
Dengan “Buku Tamu Digital Mirroring”, sebuah resepsi pernikahan yang biasanya penuh formalitas kini menjadi simbol perpaduan antara adat dan era digital modern, efisien, dan sedikit kontroversial.(Vinolla)
