Awalnya dayah kuno bernama Meunasah Subung, berdiri sejak tahun 1703 oleh seorang ulama dari Mekkah, Syeikh Abdussalam Bawarith Asyi. Seiring waktu, dayah ini sempat dihancurkan pada masa kolonial Belanda, lalu baru dibangun kembali dalam bentuk modern yang sekarang dipimpin oleh seorang ulama muda bernama Tgk. Tarmizi M. Daud al-Yusufy (dikenal sebagai “Waled”).
Dayah ini dikenal aktif mendidik santri-sanitri, terutama dalam kajian kitab klasik (kitab kuning). Sistem pendidikannya cukup mapan dan telah menarik santri tidak hanya dari Bireuen, tetapi juga dari luar provinsi.
Peristiwa robohnya dayah ini menambah kekhawatiran terkait keamanan infrastruktur pondok pesantren di Indonesia. Insiden serupa sempat terjadi sebelumnya di Pondok Pesantren Al‑Khoziny, Sidoarjo, di mana bangunan mushala ambruk dan menewaskan puluhan santri.
Pasca insiden-insiden seperti itu, sejumlah pihak menyerukan audit menyeluruh terhadap bangunan pesantren oleh pemerintah, terutama terkait izin mendirikan bangunan, standar konstruksi, dan mitigasi risiko bencana alam di wilayah rawan.
