“Jadi simpang jalan pertama setelah reformasi telah kita lalui. Nah, hari ini adalah simpang jalan kedua. Sekali lagi yang menentukan hari ini adalah sejauh mana kita memilih untuk menulis sejarah sendiri,” jelasnya.
Bima juga mengajak anak muda untuk bertransformasi dari bentuk aktivisme yang semata konfrontatif menjadi aktivisme kolaboratif. Ia mengutip pemikiran sosiolog Anthony Giddens mengenai era generasi kosmopolitan, yakni generasi yang hidup dalam dunia tanpa batas dan dituntut untuk berpikir global, adaptif, serta mampu bekerja lintas budaya.

Namun, ia menegaskan, keterbukaan global harus diimbangi dengan pijakan lokal yang kokoh. Menurutnya, generasi muda ideal adalah mereka yang memahami budaya dan jati diri bangsa, memiliki semangat nasionalisme, sekaligus berdaya saing global.
“Atau istilah saya tadi, mentalnya mental aktivis, skill-nya global, dan hatinya nasionalis,” ungkapnya.
Selanjutnya, mengutip buku The Great Wave: The Era of Radical Disruption and the Rise of the Outsider karya Michiko Kakutani, Bima menggambarkan dunia sebagai ruang penuh kejutan dan perubahan yang tak terduga. Generasi muda, katanya, harus peka terhadap dinamika besar yang bergerak di luar pakem umum.
