Kebutuhan hidrogen untuk Pupuk Indonesia diperkirakan akan meningkat dari 1,62 juta ton pada tahun 2030 menjadi 2,16 juta ton pada tahun 2060. Ia menyoroti kerja sama antara PRTRN dan Pupuk Indonesia.
“Kami berharap produksi hidrogen dari reaktor PeLUit dapat menurunkan emisi karbon di Pupuk Indonesia hingga 95 persen,” ungkapnya.
Nuri berharap riset nuklir di Indonesia semakin aplikatif dan kolaboratif. Ia menekankan bahwa teknologi nuklir bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan solusi bagi masa depan.
“Melalui pengembangan Small Modular Reactor (SMR) PeLUit oleh peneliti BRIN, kita tidak hanya membangun teknologi, tetapi juga fondasi kemandirian bangsa di bidang energi,” ujarnya.
Selain itu, Pengembang Teknologi Nuklir Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir BRIN, Kurnia Anzhar, menyampaikan paparan berjudul “Nuclear Sites and Strategic Partnerships: The Path Toward Indonesia’s Nuclear Power Plant.” Paparan tersebut menyoroti pendekatan sistematis dalam pemilihan tapak PLTN di Indonesia serta kerja sama strategis yang sedang dijalankan.
