Niki mengungkapkan, fenomena baru yang kini marak di dunia siber, yaitu scan-as-a-service, jaringan penipu menyediakan akses ke jutaan akun digital. Baru-baru ini terungkap device farm di Latvia yang melayani 15 ribu pelaku fraud dan mengakses 48 juta rekening digital.
Hal ini menunjukkan bahwa para penipu kini beroperasi layaknya perusahaan, lengkap dengan infrastruktur, data sharing, dan kolaborasi.
Dengan meningkatnya ancaman keamanan digital secara global, lanjut Niki menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ketahanan digital nasional. Serta membangun ekosistem terintegrasi yang mampu menjaga keamanan informasi dari sumber terpercaya.
“Kita di sisi industri juga harus berkolaborasi dengan skala sama kuatnya, antara perbankan, fintech, asosiasi, dan penyedia keamanan digital, untuk memperkuat ketahanan ekosistem digital nasional,” ujar Niki.
Menurut VIDA Fraud Intelligence Report 2025, kasus deepfake fraud di Asia Pasifik melonjak 1.550 persen, sementara 97 persen bisnis di Indonesia menjadi target social engineering.
