“Dan IPL juga awalnya meminta rekomendasi dari PB, kami memberi rekomendasi untuk dilaksanakan. Tapi tiba-tiba didaftarkan ke ITTF. Jadi itu yang menjadi pertanyaan dan keresahan kami,” tuturnya.
Peter bertambah heran lagi, sebagai pemegang kekuatan de jure dan de fakto, sampai saat ini PB PTMSI tidak pernah dilibatkan dalam pembentukan tim nasional untuk SEA Games dan terakhir juga dalam pertandingan POPNAS.
“Tiba-tiba POPNAS dilaksanakan oleh pihak yang bukan organisasi yang mengerti teknis, saya gak tau itu bukan organisasi malah. Jadi kita tentu di dalam Rakernas ini akan bicarakan hal-hal seperti itu. Banyak sekali agenda Rakenas yang akan kami hasilkan untuk peningkatan prestasi dan tidak kalah stratgisnya pengembangan tenis meja Indonesia,” pungkasnya.
Mengamati jalannya pembukaan Rakernas, terlihat kekompakan dan kesolidan Pengprov yang hadir dalam menyikapi perkembangan tenis meja di Tanah Air termasuk disebut-sebutnya ada dualisme hanya dengan munculnya IPL. Tepuk tangan dari 29 Pengprov yang hadir kerap terdengar menggema ketika Peter menyebut tidak ada dualisme PTMSI. Begitu juga ketika Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi KONI Pusat Mayjen TNI (Purn) Soedarmo menegaskan tidak ada dualisme kepengurusan tenis meja dan menyatakan PB PTMSI satu-satunya organisasi yang sah.
Panggil Cabor Dualisme
Dalam sambutannya sebelum membuka Rakernas PB PTMSI dengan memukol gong sebanyak lima kali, Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi KONI Pusat Mayjen TNI (Purn) Soedarmo menegaskan, KONI Pusat hanya mengakui PB PTMSI secara sah sebagai satu-satunya induk organisasi cabor tenis meja dan tidak ada organisasi tenis meja yang lain di Tanah Air. Bahkan sudah beberaoa kali KONI Pusat berdiskusi dengan PB PTMSI pimpinan Peter Layardi untuk mendaftarkan diri ke ITTF dan diakui oleh KOI.
“Kami terus berdiskusi dengan Pak Peter agar PB PTMSI ini diakui dan didaftarkan ke ITTF oleh KOI. Semua sudah dilakukan upaya-upaya sampai pengajuan ke pengadilan, yang terakhir putusan inkrah MA menyebutkan bahwa PB PTMSI sah sebagai anggota KONI,” kata Soedarmo.
Bahkan Soedarmo berfikir masalah kepengurusan cabor tenis meja sudah berakhir karena memang dari KOI menyampaikan apabila persoalan dengan Pengurus Pusat (PP) PTMSI yang diketuai Oegroseno selesai, maka akan diubah PP menjadi PB (PTMSI).
“Itu penyampaiannya begitu. Ternyata lain kata lain perbuatan. Setelah putusan inkrah dari MA, bukan mengakui PB (PTMSI), tapi KOI membuat yang namanya IPL. Saya tidak tahu motifnya apa,” lanjutnya.
Menghadapi hal itu Soedarmo meminta PB PTMSI tetap solid. Dia mengharapkan Pengprov dan jajarannya di Pengkab/Pengkot tetap bersatu. Dengan bersatu dan solid tidak akan pihak-pihak yang mampu menggoyahkan apalagi motifnya tidak jelas untuk Merah Putih.
Kini, kata Soedarmo, KONI Pusat mendapat tugas dari Menpora Erick Thohir untuk menyelesaikan dualisme sejumlah cabang olahraga. Rencananya, KONI Pusat akan mengundang cabor-cabor yang duaslisme tersebut pada 25 November 2025 mendatang. Namun, ia kurang yakin pertemuan nanti bakal menghasilkan keputusan bulat berupa penyatuan organisasi. Sebab, kata dia, masing-masing pihak diyakini bakal mengaku paling benar dan mempertahankan argumen masing-masing.
Sementara itu Rakernas selain membahas masalah disebut-sebutnya ada dualisme kepengurusan PB PTMSI juga akan dibahas agenda lain seperti bidang organisasi, akan membentuk tim penjaringan untuk mencari calon ketua umum PB PTMSI yang baru pada 2016 tahun depan.
Rakernas PB PTMSI: Ketum Peter Layardi Siap Laksanakan Arahan Menpora, KONI Pusat Minta Tetap Solid
