“Prabowo kalah di Aceh dan Sumatra Barat justru karena berpasangan dengan anak Jokowi. Sebelumnya, ketika tidak berkoalisi dengan Jokowi, Prabowo menang telak di dua daerah itu,” ujarnya.
Hasnawi juga menyoroti komposisi Kabinet Prabowo yang dinilainya didominasi menteri-menteri warisan dan binaan Jokowi, termasuk pada posisi strategis seperti Kapolri, Panglima TNI, Mendagri, Menteri ESDM, hingga BNPB.
“Mereka terlihat patuh kepada Prabowo, tapi loyalitas sesungguhnya ke Jokowi. Karena mereka tahu Prabowo sendiri tunduk dan patuh kepada Jokowi,” katanya.
Ia menyebut hubungan personal Prabowo dengan Gubernur Aceh Muzakir Manaf tidak berpengaruh terhadap kebijakan pusat. Bahkan, menurut Hasnawi, kekecewaan juga dirasakan Muzakir Manaf karena Prabowo tidak menetapkan bencana nasional, sehingga bantuan internasional tidak dapat masuk seperti saat tsunami Aceh di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
“Dulu, saat tsunami, SBY menang telak di Aceh. Negara hadir penuh, bantuan dunia dibuka. Tidak ada dendam politik,” ujarnya.
Hasnawi juga mengkritik mandeknya implementasi Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA). Menurutnya, kegagalan pemerintah pusat menjalankan UUPA membuat persoalan bendera Aceh berlarut-larut hingga memakan korban.
