Selain itu, Menag menekankan pentingnya menjunjung tinggi nilai keilmuan dan etika akademik. Ia mengingatkan bahwa akademisi harus menampilkan sikap beradab, beretika, dan mencerminkan keteladanan para ulama.
“Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang beradab atau civilized society, bukan sekadar masyarakat yang menjalankan pendidikan secara seremonial,” ungkapnya.
Menag juga menyinggung perlunya keberanian kampus untuk berpikir berbeda dan melampaui kebiasaan lama. Langkah-langkah inovatif, termasuk dalam merespons kebutuhan sumber daya manusia ke depan, dinilai penting agar kualitas pendidikan tetap terjaga.
“Keberanian mengambil langkah baru mungkin tidak langsung dipahami, tetapi kontribusi nyatanya akan sangat berarti bagi masa depan,” tuturnya.
Di akhir arahannya, Menag menegaskan bahwa seluruh upaya pembenahan pendidikan tinggi memerlukan perencanaan, analisis, dan kebijakan yang berkelanjutan. Dengan demikian, perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan bangsa. (ahmad)

