“Jika melihat angka waktu tempuh, tren menunjukkan perburukan mobilitas warga,” tandasnya.
Di luar Tomtom, SGY menyoroti INRIX 2024 Global Traffic Scorecard yang bahkan menempatkan Jakarta di peringkat ke-7 kota termacet di dunia, naik dari posisi 10 pada tahun sebelumnya.
Kata SGY, pengemudi di Jakarta kehilangan rata-rata 89 jam per tahun karena kemacetan.
“Lembaga internasional seperti INRIX mencatat kecepatan rata-rata di pusat Jakarta hanya 20 km/jam. Ini bukti kuat bahwa kebijakan transportasi tidak berjalan efektif,” tegasnya.
Dikatakan SGY, kemacetan di Jakarta berdampak kompleks. Di antaranya menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp 65-100 triliun per tahun.
Selain menambah polusi udara, memicu stres, kelelahan, hingga menurunkan kesehatan mental warga.
SGY berharap, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo dan Wakil Gubernur Rano Karno memberikan perhatian serius terhadap data dan fakta kemacetan ini.
“Kemacetan adalah masalah nyata, bukan persepsi. Pemprov harus mengambil langkah strategis, bukan sekadar bangga dengan peringkat,” tutupnya.(Sofian)
