Prita juga menekankan pentingnya gereja sebagai tempat yang aman dan bebas stigma. Ia menyebut, kolaborasi antara gereja dan layanan negara akan mempercepat pemulihan keluarga, terutama perempuan dan anak yang menjadi kelompok paling rentan.
“Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama lembaga lain telah merancang program edukasi, penguatan sistem perlindungan, dan pencegahan berbasis komunitas,” ungkapnya.
Ia menilai judi daring sebagai bahaya baru yang menyasar mereka yang sedang berjuang secara ekonomi, termasuk anak-anak yang belum memiliki literasi digital dan finansial. “Mereka menjadi kelompok yang sangat rentan,” kata Prita.
Karena itu, penguatan ketahanan fisik dan mental anak perlu dilakukan sejak dini melalui kebiasaan positif, literasi yang sehat, serta pemahaman bahwa tidak ada jalan pintas untuk meraih keberhasilan.
Sejalan dengan itu, Kepala Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Rusprita Putri Utami, mengingatkan bahwa generasi Alpha dan Beta lahir di tengah tsunami informasi yang datang hanya dari genggaman ponsel pintar.
