“Hujan terus kurang lebih itu seminggu. Tahu-tahunya itulah banjir bandang di tanggal 25 (November). Itu pun saya lihat ke sungai, ke kampung, aliran air sungai sangat deras,” ucapnya dengan nada bergetar sebagaimana dikutip, Sabtu (17/1/2026).
Erwin menjelaskan, kekhawatiran warga semakin memuncak setelah munculnya kayu-kayu besar yang ikut terbawa arus, mengancam rumah-rumah dan ladang yang berada tak jauh dari bantaran sungai.
“Kayunya pun banyak, kayu gelondongan. Warga pun langsung mengungsi semua,” tutur Erwin.
Namun, lanjut Erwin, saat itu PLTA Sipansihaporas menjadi penahan pertama yang kokoh ketika banjir datang. Saat hujan mencapai puncaknya, bendungan yang menjadi bagian dari sistem PLTA Sipansihaporas bekerja dalam senyap. Debit air yang meningkat tajam dari wilayah hulu tertahan di area bendungan. Kayu gelondongan, potongan batang pohon, dan sedimen yang terbawa arus deras menumpuk dan tertahan, tidak langsung melaju ke arah permukiman di hilir.
Di hari yang sangat mencekam itu, bendungan berperan layaknya benteng alami, memperlambat laju air dan meredam potensi kerusakan yang lebih besar. Berkat fungsi tersebut, sedikitnya tiga desa di wilayah hilir terhindar dari ancaman banjir yang lebih parah.
