“Saya akui itu refleks. Maksud saya mendidik, bukan menyakiti,” katanya.
Insiden itu sempat dilerai oleh guru lain dan dilanjutkan dengan proses mediasi. Namun suasana kembali memanas setelah muncul tudingan bahwa Agus sebelumnya melontarkan kata “miskin” kepada salah satu siswa, yang dianggap sebagai bentuk penghinaan.
Agus membantah keras tudingan tersebut. Menurutnya, pernyataan itu disampaikan dalam konteks motivasi dan tidak ditujukan kepada individu tertentu.
“Saya berbicara secara umum. Maksudnya memotivasi agar siswa fokus belajar dan menjaga sikap, bukan merendahkan,” jelasnya.
Mediasi yang melibatkan pihak sekolah dan komite tidak membuahkan kesepakatan. Agus bahkan memberikan opsi kepada siswa untuk membuat petisi apabila tidak menginginkan dirinya mengajar kembali. Di sisi lain, para siswa meminta Agus menyampaikan permohonan maaf. Perundingan pun berakhir tanpa titik temu.
Situasi memburuk ketika Agus dipanggil ke kantor sekolah. Di lokasi tersebut, sejumlah siswa diduga melakukan pengeroyokan. Keributan berlangsung hingga jam pelajaran berakhir pada sore hari.
