Agus mengaku mendapat ancaman dan menjadi sasaran lemparan batu. Dalam kondisi tertekan, ia sempat mengacungkan celurit untuk menakut-nakuti siswa agar membubarkan diri.
“SMK pertanian, alat seperti cangkul dan celurit memang tersedia di kantor. Itu hanya untuk menghalau, tidak ada niat melukai siapa pun,” tegasnya.
Namun upaya tersebut tidak berhasil. Lemparan batu terus berlanjut hingga Agus mengalami memar di beberapa bagian tubuh, termasuk pipi.
Usai kejadian, Agus mendatangi Dinas Pendidikan Provinsi Jambi untuk melaporkan insiden tersebut sekaligus memberikan klarifikasi atas kronologi yang sebenarnya.
“Sebagai bawahan dinas, saya harus mengadu ke pimpinan. Kalau bukan ke dinas, ke mana lagi saya melapor,” ujar Agus.
Ia mengungkapkan, langkah awal yang ditempuh adalah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan sebagai bentuk penghormatan institusi sebelum mengambil langkah hukum lebih lanjut.
“Kami sepakat untuk tidak gegabah. Soal jalur hukum, itu akan dipertimbangkan setelah ada arahan dari dinas,” katanya.
