Mansyur S juga membagikan momen haru yang terjadi beberapa saat sebelum sang istri menghembuskan napas terakhir. Pagi itu, ia masih sempat berolahraga seperti biasa dan mencium kening sang istri, sebuah rutinitas yang kerap ia lakukan.
“Setiap habis jalan, saya selalu cium keningnya. Tadi pagi juga begitu. Setelah cium kening kedua, saya lanjut olahraga. Tidak lama kemudian, keponakan saya memberi makan, tapi tidak bisa masuk. Saya pegang kepalanya, cium keningnya lagi, dan saat itu beliau wafat,” kisahnya sambil menahan haru.
Bagi Mansyur S, kenangan terindah bersama sang istri bukan hanya tentang perjalanan karier, tetapi juga kehidupan sederhana sehari-hari. Bahkan, masakan almarhumah menjadi salah satu hal yang paling ia rindukan.
Almarhumah dikenal sebagai sosok istri yang baik, penuh perhatian, serta gemar bersedekah. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun juga teladan kebaikan yang akan terus dikenang oleh keluarga dan orang-orang terdekat.
“Untuk keluarga dan semua pihak, mohon maaf apabila almarhumah memiliki kesalahan, disengaja atau tidak. Sebagai manusia, tentu ada kekurangan,” ucap Mansyur S.

