Elmaryanti Marbun menyampaikan, pada hari ketiga pascabanjir, sejumlah guru yang rumahnya tidak terdampak mulai mendatangi madrasah untuk meninjau kondisi. Namun, pembersihan belum dapat dilakukan karena kondisi lumpur yang masih sangat tebal serta keterbatasan akses dan sarana pendukung.
“Kendala utama dalam proses pemulihan awal adalah terbatasnya mobilisasi di wilayah Kecamatan Barus, terutama akibat kelangkaan bahan bakar minyak. Kondisi ini menghambat penggunaan alat bantu pembersihan dan memperlambat proses penanganan pascabanjir,” jelas Elmaryanti.
Kepala MAN 1 Tapteng mengungkapkan, memasuki dua minggu pascabanjir, kegiatan pembersihan mulai dilakukan secara bertahap melalui gotong royong para guru dengan dukungan masyarakat sekitar. Tujuh ruang kelas ditetapkan sebagai prioritas awal pembersihan, termasuk ruang guru. Pada tahap ini, siswa belum dilibatkan demi menjaga keselamatan dan menghindari risiko cedera.
“Pada 10 Desember 2026, beberapa ruang kelas telah dapat digunakan untuk pembelajaran terbatas. Siswa mulai dilibatkan dalam pembersihan ringan, seperti membersihkan meja dan kursi masing-masing dengan memanfaatkan air dari sumur madrasah. Kegiatan pembersihan tetap berlanjut meskipun madrasah memasuki masa libur semester,” ucapnya.
