Menanggapi polemik yang berkembang, guru berinisial AS akhirnya angkat bicara. Ia mendatangi Dinas Pendidikan Provinsi Jambi pada Rabu (14/1/2026) untuk meminta perlindungan serta kepastian jaminan keamanan.
AS mengaku merasa terancam pascakejadian tersebut. Ia menilai kondisi sosial dan geografis wilayah tempatnya mengajar membuat situasi semakin rawan.
“Saya datang ke dinas pendidikan untuk meminta perlindungan, baik dari sisi keamanan, kesehatan, maupun tekanan yang saya alami. Sampai hari ini belum ada jaminan keamanan yang jelas,” ujar AS.
Ia mengungkapkan bahwa sebenarnya telah dijadwalkan mediasi dengan pihak sekolah maupun kepolisian di Polsek Berbak. Namun, rencana itu urung dihadiri lantaran kekhawatiran akan keselamatannya.
“Harusnya hari ini saya mediasi, tapi karena belum ada jaminan keamanan, saya tidak berani datang. Saya memilih melapor ke dinas pendidikan provinsi,” katanya.
Terkait tudingan membawa senjata tajam, AS menegaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi setelah dirinya diduga mengalami pengeroyokan. Situasi semakin memanas, menurutnya, ketika sejumlah wali murid ikut datang ke sekolah.
