Aksi serupa dilaporkan terjadi di berbagai kota besar seperti Rasht, Tabriz, Shiraz, hingga Kerman. Sejak akhir Desember 2025, tuntutan demonstran telah bergeser dari isu ekonomi menjadi desakan untuk mengakhiri sistem pemerintahan ulama yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
Organisasi HAM yang berbasis di Norwegia, Iran Human Rights, melaporkan sedikitnya 51 demonstran, termasuk sembilan anak-anak tewas akibat tindakan keras aparat keamanan. Ratusan lainnya dilaporkan luka-luka.
Di sisi lain, kantor berita Tasnim menyebut otoritas telah menangkap sedikitnya 200 “pemimpin kerusuhan”.
Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi Azad, memberikan peringatan keras bahwa siapa pun yang terlibat dalam protes akan dianggap sebagai “Musuh Tuhan” (Moharebeh), sebuah dakwaan yang diancam hukuman mati.
Situasi di Iran memicu perang urat syaraf antara Amerika Serikat dan Teheran. Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungan terbukanya bagi para demonstran dan memperingatkan Iran untuk tidak melakukan pembantaian.
