“Kita harapakan kondisi ini tidak terulang di masa yang akan datang,” ujarnya.
Lebih lanjut, Agus menegaskan, pentingnya sistem pengelolaan dan pengangkutan sampah yang berkelanjutan agar penumpukan tidak terjadi lagi di kemudian hari.
“Untuk selanjutnya, kami akan membahas keberlanjutannya agar bisa terjaga dengan baik, sehingga penumpukan sampah seperti ini tidak lagi terulang,” jelasnya.
Dia mengungkapkan, peristiwa penumpukan sampah ini bukan kali pertama terjadi. Kondisi serupa sudah terjadi untuk kedua kalinya, yang disebabkan oleh keterbatasan armada pengangkut sampah yang beroperasi di Pasar Induk Kramat Jati.
“Penumpukan ini sebenarnya sudah kali kedua, kejadian pertama pertengahan Juni atau Juli 2025. Ketika armada yang masuk tidak ideal, maka potensi penumpukan sampah ini akan terus terjadi dan berulang,” ucap Agus.
Secara ideal, kata dia, Pasar Induk Kramat Jati membutuhkan sekitar 12 hingga 15 armada pengangkut sampah setiap hari. Namun, saat ini jumlah armada yang beroperasi hanya sekitar delapan unit. Kondisi tersebut dinilai tidak mencukupi untuk mengangkut volume sampah harian yang dihasilkan aktivitas pasar.
