Maslen mengatakan laporan tersebut meneliti secara detail situasi di Gaza, Tepi Barat yang diduduki, dan 23 zona konflik bersenjata lainnya dari 1 Juli 2024 hingga 31 Desember 2025.
Ia mengatakan ia yakin dua tahun terakhir akan dipandang selain dengan kesedihan dan penyesalan yang mendalam, menambahkan: “Saya berharap ada rasa bersalah yang cukup besar. Ini seharusnya tidak terjadi seperti ini. Itu sama sekali tidak membenarkan apa yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober, tetapi juga tidak membenarkan besarnya kematian dan kerusakan yang disebabkan oleh respons Israel.”
Akademisi tersebut mengatakan dunia belum melihat kemajuan dalam surat perintah penangkapan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC). “Sebaliknya, kita telah melihat sanksi yang dikenakan pada para hakim yang mengeluarkan surat perintah tersebut,” tambahnya.
Maslen mengatakan mereka ingin melihat keadilan bagi semua orang yang telah dibunuh secara tidak sah, dan ia menambahkan bahwa ia yakin rakyat Gaza menginginkan hal yang sama. (ahmad)
