Selain agenda kelembagaan, rapat turut membahas perkembangan Board of Peace (BOP) terkait upaya penghentian konflik Palestina. Syahrul menjelaskan bahwa inisiatif tersebut muncul setelah ratusan resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menghentikan peperangan di Palestina dinilai belum efektif, terutama karena dinamika veto di Dewan Keamanan PBB.
Ia menyebut sejumlah negara seperti Mesir, Qatar, Arab Saudi, dan Yordania memandang perlunya melibatkan Amerika Serikat dalam upaya mendorong penghentian konflik. “BOP menurut pemerintah Indonesia adalah opsi yang ada saat ini. Dalam kondisi darurat, kita memilih mudarat yang lebih ringan dengan harapan ada ruang untuk meredakan eskalasi kekerasan,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina tetap konsisten. Pemerintah diingatkan untuk tidak melupakan perjuangan rakyat Palestina serta berbagai pelanggaran yang masih terjadi, termasuk di wilayah Tepi Barat.
Rapat koordinasi ini diharapkan menjadi fondasi penguatan diplomasi Indonesia yang lebih terintegrasi, sehingga peran Indonesia di berbagai forum internasional dapat semakin efektif, terarah, dan mencerminkan kepentingan nasional sekaligus komitmen terhadap perdamaian dunia. (tim)

