Menag mengingatkan bahwa esensi agama adalah mencintai sesama. Prinsip kemanusiaan universal (humanity) menjadi fondasi dalam memberikan bantuan sosial, terutama di bulan suci.
“Jangan melihat agamanya orang yang kehausan dan kelaparan. Artinya agama apapun yang sedang kelaparan itu, beri makan. Allah memuliakan anak cucu Adam, Tuhan tidak mengatakan memuliakan orang Islam (saja), tidak. Siapapun merasa anak cucu Adam, apapun agamanya, etniknya, warna kulitnya, beri bantuan,” tegas Menag.
Menag juga mengajak umat beragama untuk saling menghargai ruang publik, termasuk mengimbau pemilik pusat perbelanjaan untuk memfasilitasi kebutuhan ibadah dengan layak dan menciptakan suasana yang sejuk bagi mereka yang berpuasa.
“Saya mohon kepada pimpinan umat beragama, mari kita bersosialisasi untuk hal yang positif. Jadikan agama itu sebagai motivasi untuk mencintai orang sekalipun berbeda-beda agama. Itulah orang yang beragama yang sejati,” tambah Menag.
Menutup arahan, Menag berharap Sulawesi Selatan dapat menjadi percontohan nasional dalam mengawinkan kearifan lokal dengan nilai-nilai universal agama. Beliau mengajak seluruh pihak untuk mewujudkan kebenaran agama dengan cara-cara yang santun dan penuh kasih sayang demi menjaga wibawa agama itu sendiri di mata dunia. (ahmad)
