Ia juga mengungkapkan, sebelum kejadian perusakan, warga sempat menggelar aksi demonstrasi menuntut agar lokasi dapur MBG dipindahkan.
“Sempat juga ada demo sebelumnya, warga saat itu menuntut dapur untuk dipindahkan lokasinya,” jelasnya.
Menurut Rasidi, pemerintah desa telah memfasilitasi musyawarah antara masyarakat dengan pihak yayasan yang mengelola pembangunan dapur MBG tersebut. Dalam rapat koordinasi yang digelar pada Minggu sebelumnya di wilayah pondok pesantren setempat, kedua belah pihak sempat mencapai kesepakatan untuk melanjutkan pembangunan.
“Pada hari Minggu, kami melakukan rapat koordinasi di wilayah kerja pondok pesantren. Akhirnya kami sepakat untuk melanjutkan pembangunan dapur MBG tersebut. Karena yang disampaikan oleh ketua pengurus yayasan, pembangunan MBG tersebut salah satunya untuk pendapatan pondok pesantren,” terang Rasidi.
Meski demikian, ketegangan kembali memuncak hingga berujung pada aksi perusakan.
Pemerintah desa berharap kejadian tersebut menjadi yang terakhir dan tidak terulang kembali. Rasidi mengimbau masyarakat untuk menyampaikan aspirasi melalui dialog terbuka.

