“Saya sempat bilang, kok bisa anakku kena tembakan? Saya tidak terima,” ujar Desi, yang kemudian langsung pulang ke Makassar setelah mendapatkan kabar duka tersebut. Dia juga menjelaskan bahwa sebelum kejadian, Bertrand sering meneleponnya dan bertanya kapan ibunya akan pulang ke Makassar.
Kejadian ini menjadi sorotan karena maraknya tren perang‑perangan menggunakan senjata mainan di kota tersebut belakangan ini, terutama di kalangan anak muda. Polrestabes Makassar mengonfirmasi bahwa aktivitas tersebut semakin meresahkan warga karena sering dilakukan di ruang publik dan jalan raya, serta berpotensi memicu kecelakaan ataupun konflik antar kelompok remaja.
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol. Arya Perdana, mengatakan pihaknya akan melakukan razia terhadap penjual senjata mainan untuk memastikan apakah barang‑barang tersebut memenuhi standar keselamatan dan izin edar yang berlaku. Meski berbentuk mainan, senjata ini tetap berbahaya jika tidak digunakan dengan benar dan di luar tempat yang aman.
