Hasil analisis menunjukkan blackmass mengandung kobalt 30,4 persen, nikel 21,7 persen, mangan 26 persen, dan besi 4,4 persen. Analisis XRD juga mengidentifikasi grafit serta senyawa lithium cobalt oxide sebagai komponen utama katoda.
Pada tahap eksperimen, penelitian menguji tiga variabel utama, yaitu rasio padatan–cairan, konsentrasi asam sulfat, dan temperatur pelindian melalui 15 kali percobaan untuk menentukan kondisi optimum. Hasilnya menunjukkan peningkatan konsentrasi asam sulfat dan temperatur pelindian meningkatkan kelarutan logam, dengan perolehan nikel 80–95 persen dan kobalt 85–98 persen.
Optimasi menggunakan response surface method (RSM) menunjukkan kondisi terbaik pada rasio padatan cairan sekitar 2 persen, konsentrasi asam sulfat 1,5 molar, dan temperatur 79,38 derajat celsius. Pada kondisi tersebut, perolehan nikel mencapai 99,9 persen dan kobalt 97,8 persen dengan akurasi prediksi model yang baik berdasarkan analisis ANOVA.
Vita menegaskan baterai litium bekas berpotensi besar sebagai sumber sekunder logam kritis seperti nikel dan kobalt. Ke depan, penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan pada skala lebih besar dan diintegrasikan dalam proses daur ulang baterai di tingkat industri.
