Di sisi lain, ia juga menyoroti beberapa BUMD yang dinilai belum maksimal dalam memanfaatkan PSO untuk menghasilkan dampak ganda, baik dari sisi pelayanan maupun kontribusi ke PAD.
BUMD di sektor pangan, seperti Perumda Pasar Jaya dan PT Food Station Tjipinang Jaya dinilai masih perlu melakukan transformasi bisnis agar lebih adaptif terhadap perubahan pasar dan mampu meningkatkan profitabilitas tanpa mengabaikan fungsi stabilisasi harga.
“Tantangan utama BUMD saat ini adalah bagaimana mengubah paradigma dari sekadar “pengelola subsidi” menjadi ‘penghasil nilai tambah’. Karena itu kami mendukung dan mendorong BP BUMD DKI Jakarta untuk memperkuat sistem evaluasi kinerja berbasis Key Performance Indicators (KPI) yang mengedepankan outcome, seperti peningkatan kualitas layanan, efisiensi biaya, serta kontribusi nyata terhadap PAD,” katanya.
Untuk itu, Ryan berharap kedepan, perlu ada klasifikasi yang jelas antara BUMD yang berbasis pelayanan penuh dan BUMD yang berorientasi profit.
“Namun keduanya tetap harus memiliki indikator kinerja yang terukur dan transparan,” ujarnya.
