IPOL.ID- Eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan volatilitas hargaenergi global serta biaya logistik perdagangan internasional. Namun bagi Indonesia, dampaklangsung terhadap perdagangan diperkirakan relatif terbatas mengingat eksposur perdagangan dengan kawasan tersebut masih kecil. Risiko utama justru muncul melalui kanal tidak langsung, terutama kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, serta perlambatan aktivitas industri di negara mitra dagang utama yang dapat memengaruhi dinamika ekspor Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh Indonesia Eximbank Institute menunjukkan bahwaekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2% dari total ekspor nasional, dengan komoditas utama meliputi minyak kelapa sawit (HS 1511), perhiasan (HS 7113), serta mobil dan kendaraan bermotor lainnya (HS 8703). Sementara itu, impor Indonesia dari kawasan tersebut mencapai sekitar 3,9% dari total impor nasional dan didominasi oleh komoditas energi, khususnya minyak. Struktur perdagangan tersebut menunjukkan bahwa eksposur perdagangan langsung Indonesia terhadap kawasan konflik relatif terbatas.
