Kenaikan harga energi dan biaya logistik berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global. Bagi eksportir Indonesia, tekanan tersebut akan lebih terasa pada sektor yangmemiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, seperti industri manufaktur, petrokimia, dan logam dasar. Dalam kondisi tersebut, kenaikan biaya input dapat menggerus margin produksi, terutama apabila di saat yang sama permintaan global mengalami perlambatan.
Selain itu, volatilitas pasar keuangan global juga dapat menimbulkan tekanan terhadap nilai tukarnegara-negara emerging markets, termasuk Indonesia. Pelemahan nilai tukar berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku bagi industri domestik sehingga memperbesar tekanan biaya bagi sektor yang berorientasi ekspor.
Di tengah berbagai risiko tersebut, beberapa komoditas ekspor Indonesia justru mengalami kenaikanharga seiring kenaikan harga energi global. Batubara, yang memiliki kontribusi sekitar 8–9% terhadaptotal ekspor nasional, berpotensi mendapatkan dorongan harga. Sementara itu, harga minyak kelapasawit (CPO) juga menunjukkan tren yang relatif kuat seiring masih solidnya permintaan globalterhadap komoditas agro. Selain itu, sejumlah komoditas dengan bahan baku lokal di tengah tren penurunan suku bunga sebelumnya turut menekan biaya produksi sehingga membuka ruang bagipeningkatan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar global.
