“Secara otomatis akan ada perubahan rezim,” ucapnya.
Ketegangan sempat memuncak saat Trump memberikan ultimatum 48 jam bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz atau menghadapi penghancuran pembangkit listrik. Namun, Trump memilih menunda ancaman tersebut setelah mengaku mendapatkan hasil diskusi yang “sangat baik dan produktif”.
Melalui media sosial Truth Social, Trump memuji pihak-pihak yang terlibat dalam diskusi tersebut sebagai sosok yang mampu diajak berdiskusi secara masuk akal.
“Kita berurusan dengan beberapa orang yang menurut saya sangat masuk akal, sangat solid. Orang-orang di dalam tahu siapa mereka, mereka sangat dihormati, dan mungkin salah satu dari mereka akan persis seperti yang kita cari,” beber Trump.
Namun, klaim deeskalasi ini dibantah oleh pihak Iran. Kantor berita Fars melaporkan bahwa Teheran mengaku tidak ada komunikasi, baik langsung maupun tidak langsung, dengan AS sebelum pengumuman penundaan serangan tersebut.
Penundaan serangan AS selama lima hari ini langsung direspons positif oleh pasar global dengan penurunan tajam harga minyak mentah Brent.
