Pemain muda berbakat ini secara terbuka menyebut para oknum yang menyanyikan chant tersebut sebagai figur yang “bodoh dan rasis”. Menurutnya, fanatisme dalam mendukung tim kesayangan tidak semestinya melewati batas dengan menyerang keyakinan seseorang.
“Sepak bola harus dinikmati dan didukung, bukan untuk menghina orang karena siapa mereka atau apa yang mereka yakini,” tegasnya.
Apresiasi dari Muhammadiyah
Sikap berani Yamal dalam mengakui dan membela identitasnya di tengah tekanan publik mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, termasuk dari Indonesia. Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Qaem Aulassyaheid, memberikan pujian atas integritas yang ditunjukkan oleh Yamal.
Qaem menilai bahwa keberanian Yamal untuk berdiri tegak sebagai seorang Muslim di panggung sepak bola dunia patut dijadikan teladan.
“Apa yang dilakukan Lamine Yamal, dengan menyatakan rasa bangganya sebagai seorang Muslim secara terbuka di depan publik internasional, sangat patut diacungi jempol. Sebagai seorang Muslim, memang sudah seharusnya memiliki kepercayaan diri dan ketegasan dalam menjaga kehormatan agamanya, terutama saat menghadapi tindakan diskriminatif,” ujar Qaem.
