Menurut dia, krisis bahan baku terjadi karena mahalnya komponen petrokimia seperti nafta dan polypropylene, yang merupakan turunan dari minyak bumi. Selain harga yang melonjak, pasokan bahan baku juga semakin terbatas di pasar global.
Kondisi ini memaksa produsen untuk menaikkan harga jual popok di tingkat konsumen sebesar 20 persen hingga 30 persen. Namun demikian, APKI menilai langkah tersebut belum cukup untuk menutup tekanan biaya produksi yang terus meningkat.
“Tekanan biaya berpotensi mendorong penyesuaian harga jual diapers di pasar, yang pada akhirnya dapat berdampak pada daya beli masyarakat,” kata Oto.
APKI pun mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah cepat guna menjaga stabilitas industri. Salah satunya melalui kemudahan perizinan serta kelancaran arus impor bahan baku agar distribusi tidak terhambat.
Selain itu, koordinasi antarkementerian dinilai sangat penting untuk mencegah munculnya kebijakan yang justru menambah ketidakpastian di tengah kondisi yang sudah sulit.
Tanpa solusi konkret dalam jangka pendek, APKI mengkhawatirkan industri popok nasional akan menghadapi risiko lebih besar, mulai dari penghentian operasional pabrik hingga gelombang PHK karyawan.(Vinolla)
