Ketua Umum FORKKABI itu membandingkan, Monas yang dinilai memiliki kapasitas dengan menampung ratusan ribu orang. Sementara, sambungnya lagi Lapangan Banteng dengan kapasitas terbatas, namun lebih teratur.
“Disamping itu, tempatnya juga rindang dan nyaman. Meski demikian, persoalan parkir masih menjadi catatan yang perlu disiapkan, termasuk kemungkinan memanfaatkan kantong parkir di sekitar kawasan seperti Masjid Istiqlal,” bebernya.
Lebih lanjut, Ikhsan mengungkapkan selain Lapangan Banteng dan Monumen Nasional, kawasan Setu Babakan juga sempat menjadi lokasi penyelenggaraan Lebaran Betawi pada tahun-tahun sebelumnya.
Namun, lokasi di Jakarta Pusat dinilai lebih strategis karena berada di titik tengah ibu kota.
“Kami berharap penetapan lokasi yang tetap dapat menjadikan Lebaran Betawi sebagai destinasi budaya unggulan. Acara ini tidak hanya menampilkan kuliner khas Betawi, tetapi juga pertunjukan seni dan budaya yang dapat dinikmati masyarakat secara luas,” bebernya.
Terkait dengan perayaan lebaran Betawi yang diselenggarakan memasuki 18 tahun pada 2026. Pria yang dikenal low profil itu menjelaskan perayaan Lebaran Betawi tidak terbatas hanya satu hingga tiga hari seperti Idul Fitri, melainkan berlangsung sepanjang bulan Syawal.
