Budi telah meminta produsen menghadirkan minyak goreng second brand setipe Minyakita, sebagai alternatif dengan harga yang lebih terjangkau untuk menjaga keseimbangan pasar.
“Ada minyak second brand. Kita minta produsen membuat minyak second brand. Ini pembandingnya Minyakita. Kemudian juga ada minyak premium,” ujarnya.
Terkait harga, ia mengakui terjadi kenaikan terbatas yang dipicu faktor biaya produksi, terutama kemasan plastik.
“Ya ada sedikit juga naik. Karena kan imbas dari, kan mereka kemasannya plastik semua. Tapi enggak ada namanya kelangkaan,” ucapnya.
Di sisi lain, keluhan terkait Minyakita memang banyak muncul di lapangan. Sejumlah pedagang di Jakarta mengaku sudah berbulan-bulan tidak mendapatkan pasokan.
Di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan, seorang pedagang bernama Elan mengaku tidak lagi menjual Minyakita sejak tiga bulan terakhir karena stok dari pemasok kosong. Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Mampang Prapatan, di mana pedagang terakhir kali menjual Minyakita pada Januari lalu.
