Menurut Risa, penggunaan bahasa ibu dalam pembelajaran dapat membantu anak memahami materi lebih cepat karena mereka tidak perlu menerjemahkan bahasa. Hal ini mengurangi beban kognitif sekaligus meningkatkan kemampuan memori, persepsi, dan pemecahan masalah. Selain itu, bahasa ibu juga menjadi dasar transfer literasi ke bahasa lain sehingga mendukung kemampuan, baik bilingual maupun multilingual.
Namun, hasil riset menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Batak Angkola terus menurun, baik di rumah maupun di lingkungan sosial. “Di sekolah, muatan lokal bahasa Batak Angkola baru diterapkan pada kelas 3 SD dan hanya di sekolah tertentu. Ketersediaan buku ajar terbatas, tampilan buku kurang menarik, dan guru menghadapi kendala karena minimnya pelatihan serta bahan ajar yang sesuai,” paparnya.
Menurutnya, kondisi ini menghambat penguasaan bahasa ibu sekaligus melemahkan integrasi budaya lokal dalam pembelajaran. Sebagai upaya revitalisasi, Risa bersama tim bekerja sama dengan Suluh Insan Lestari untuk mengembangkan bahan ajar berbasis bahasa ibu, menyusun kurikulum untuk kelas awal sekolah dasar, serta memberikan pelatihan bagi guru.
